oleh

Wali Murid MAN Prabumulih Meradang, Biaya Pembelian Buku Tembus Rp 1.452.000. Belum Lunas, Raport Siswa Tidak Diberikan

monopolisumselnews| Prabumulih – Sejumlah orangtua siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Prabumulih, Sumsel, mengeluhkan mahalnya harga buku pelajaran yang dijual pihak sekolah.

Bahkan, menurut informasi yang di himpun oleh media ini, orangtua murid tidak dapat mengambil Raport jika belum melunasi tagihan buku pelajaran tersebut.

Buku-buku pelajaran tahun ajaran baru itu di tagihkan oleh pihak sekolah ke orang tua murid hingga mencapai kurang lebih Rp 1.500.000.

Padahal salah satu poin penting dari Permendikbud Nomor 80 Tahun 2017 atau Permendikbud Nomor 3 Tahun 2019, tentang sekolah wajib menggunakan minimal 20% alokasi dana BOS untuk pembelian buku teks pelajaran (BTP) dan buku teks non pelajaran (BNTP).

“Harga buku yang harus saya lunasi untuk dapat mengambil Raport anak saya tadi itu sebesar Rp 1.452.000. Ini sangat memberatkan bagi orang tua, apalagi yang memiliki anak yang sekolah lebih banyak,” ujar salah satu orang tua siswa yang enggan di sebutkan namanya saat setelah pengambilan Raport anaknya, Jumat (20/12/2019).

Menurut dia, pembelian paket buku untuk belajar satu tahun itu memang di perlukan, namun nominal pembayaran buku tersebut cukup terasa besar baginya, padahal pemerintah sudah mengeluarkan dana BOS untuk meringankan beban pembiayaan.

“Kami tau, buku pelajaran untuk anak sekolah itu penting, yang jadi pertanyaan apakah dana BOS itu tidak ada untuk pembelian buku sekolah, atau paling tidak meringankan pembiayaan pembelian buku untuk murid,” bebernya.

# Baca Juga :  Berbagi di Suasana Menyambut Idul Fitri, Rutan Prabumulih Berikan Bantuan Bahan Pokok ke Panti Asuhan Wahdini

Menanggapi hal itu, Kepala Sekolah Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Prabumulih, Muslim Arif SPd MSi tidak menepis adanya pembiayaan buku tersebut, karena hal itu sudah jadi kebijakan Kepala Sekolah sebelum dirinya.

“Saya baru 3 bulan menjabat di sini, hal itu sudah jadi kebijakan Kepala Sekolah sebelum saya yang saat ini sudah pindah ke Kantor Kemenag Kota Palembang. Namun, untuk pengambilan Raport murid, orang tua tidak harus melunasi biaya buku tersebut, hanya saja kita memberikan surat perjanjian untuk para orang tua agar dapat melunasi biaya buku itu dua bulan dari sekarang,” kata dia saat di bincangi awak media di ruang kerjanya.

Ia menjelaskan, buku-buku yang di bebankan ke siswa itu terkadang buku Referensi yang sifatnya terbatas dan bukan untuk setiap anak yang tujuannya untuk menambah pengetahuan murid.

“Terkadang memang kebijakan itu ada Pro dan Kontra, sebenernya kebijakan pembelian buku ini bagus untuk menambah ilmu pengetahuan murid andaikan orang tua murid mampu. Namun, di sisi lain yang menjadi masalah andaikan orang tua murid tidak mampu,” ungkap mantan Kepsek MAN Ogan Ilir itu.

Sementara itu, Kepala Kantor Kementrian Agama Kota Prabumulih Yery Taswin SPd saat di konfirmasi media ini melalui Via Telepon, belum mengetahui hal itu.

“Kalau untuk masalah pembelian buku atau nominal pembelian buku saya belum mendapatkan kabar, jadi saya belum bisa memberi tanggapan,” ungkapnya.

Menurut dia, buku yang di butuhkan oleh siswa dan tidak di biayai oleh anggara BOS seharusnya di kompromikan dahulu kepada wali murid atau dengan murid itu sendiri melalui komite sekolah.

“Biasanya kalau siswa tersebut memang membutuhkan buku itu biasanya di kordinir oleh komite dan koperasi sekolah,” kata dia.

Ia juga mengatakan, berdasarkan persentase dana BOS tersebut, sebagian memang di peruntukan sebagai keperluan pembelian buku paket yang dipakai sepanjang tahun dan itu berkelanjutan.

Ia menilai, Segala sesuatu yang berkaitan dengan biaya harus di sesuaikan dengan kemampuan orang tua murid serta berdasarkan kompromi.

“Tujuan sekolah bagus untuk pendidikan anak, tapi jangan sampai memberatkan orang tua murid karena tidak semua orang tua murid itu mampu,” pungkasnya.

Komentar

BACA JUGA